-->

Antara Aku, Bagong dan Marwit


            Secangkir kapucino  KW  cukuplah untuk membohongi diri seakan nyruput kopi hitam yang hanya bisa dinikmati tengah hari saat istirahat kerja. Sengaja dilakukan hanya untuk mengatur  frekuensi agar tetap terjaga rasa rinduku pada kang Marwit.
Rindu yang sebenarnya tidak harus ada karena hamper setiap hari ketemu ngopi bareng. Mungkin seperti kecanduan pada kang Marwit ini hehehehe.
            Ngopi dengan kang Marwit itu seakan menemukan hal baru yang selama ini hanya dinikmati oleh kalangan tertentu yang sangat sulit untuk dijangkau bagi kami yang hanya ngopi di emperan. Salah satu yang menarik dari pertemuanku dengan kang Marwit saat ngopi adalah pertemuanku dengan sosok kang Bagong, orangnya tidak gemuk hanya saja hitam legam layaknya bagong. Kehadiran kang Bagong ini mewarnai obrolan ngopi kami dengan hal yang baru bagiku, yaitu pecaya pada diri sendiri.
            Bukan hal yang baru dalam obrolan orang kebanyakan, hanya saja saat ini kang Bagong lebih menitik beratkan pada percaya pada jati diri. Seketika ngopinya jadi pesta durian habis 1 ton hahahaha efeknya kepala langsung pusing dan mau muntah. Percaya pada jati diri merupakan hal yang sangat penting bagi kang Bagong, sampai-sampai sangat penting meyakini diri sendiri dulu daripada Tuhan.
Dalam kedaan setengah mendem duren aku bertanya pada kang Bagong “Bukannya kita harus percaya dan yakin dulu terhadap Tuhan daripada ke yang lain apalagi pada jati diri sendiri yang sepertinya juga sangat sulit untuk ditemui?”
Kang Bagong dengan santai menjawab “ bagaimana mungkin kamu yakin pada Tuhan sedangkan pada ciptaannya yang sangat hebat yang disebut manusia saja kamu tidak yakin. Bukan berhenti di manusianya saja namun pada sejati manusia tersebut yang tidak pernah terputus koneksinya pada Tuhan”.
“sejatimu itu tidak akan pernah bohong padamu karena hanya dia yang dapat kamu percaya untuk berkomunikasi dengan tuhan. Kalau manusia lain yang sudah penuh dengan intrik untuk memenuhi nafsunya dan membunuh sejatinya itu malah sangat besar potensi kebohongannya”.
“sekali kamu lepas dari sejati mu maka kamu akan sangat mudah terombang-ambing dalam kehidupan seakan kehilangan pegangan hidup”. Lanjut kang Bagong.
Kang Marwit masih saja santai menikmati rook dan sesekali mnyruput kopinya seakan membiarkan aku mendem dengan obrolan kang Bagong.
“lantas bagaimana bisa aku mempercayai sejatiku yang seakan bahkan hampir tidak pernah kutemui? Jangankan untuk mendiskusikan mana yang benar dan salah, sekedar memanggilpun tidak pernah” tanyaku pada kang Bagong.
“ya mulai belajar gila untuk berbicara atau memangil sejatimu” lanjut kang Bagong.
“apa bisa kang?” tanyaku.
“ya pasti bisa kan kamu sudah punya ijin hidup” lanjut kang bagong.
“lha kan memang sudah hidup kang masa ada ijinnya?” tanyaku tambah bingung
“hahahaha soal ijin hidup nanti kau tanya pada kang Marwitmu itu, aku hanya inngin menyampaikan agar kamau itu tidak mudah percaya pada siapapun selain pada sejatimu, selebihnya urusanmu….. hahahahaha” kang bagong tampak puas dengan membuatku bingung  sama persis kayak kang Marwit.
Begitulah kalau sudah ngobrol dan ngopi bareng sama orang-orang setengah ndeleleng

           

0 Response to "Antara Aku, Bagong dan Marwit"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel