Antara Aku, Bagong dan Marwit
February 12, 2019
Add Comment
Secangkir
kapucino KW cukuplah untuk membohongi diri seakan nyruput
kopi hitam yang hanya bisa dinikmati tengah hari saat istirahat kerja. Sengaja dilakukan
hanya untuk mengatur frekuensi agar
tetap terjaga rasa rinduku pada kang Marwit.
Rindu yang sebenarnya tidak harus
ada karena hamper setiap hari ketemu ngopi bareng. Mungkin seperti kecanduan
pada kang Marwit ini hehehehe.
Ngopi
dengan kang Marwit itu seakan menemukan hal baru yang selama ini hanya
dinikmati oleh kalangan tertentu yang sangat sulit untuk dijangkau bagi kami
yang hanya ngopi di emperan. Salah satu yang menarik dari pertemuanku dengan
kang Marwit saat ngopi adalah pertemuanku dengan sosok kang Bagong, orangnya
tidak gemuk hanya saja hitam legam layaknya bagong. Kehadiran kang Bagong ini
mewarnai obrolan ngopi kami dengan hal yang baru bagiku, yaitu pecaya pada diri
sendiri.
Bukan
hal yang baru dalam obrolan orang kebanyakan, hanya saja saat ini kang Bagong
lebih menitik beratkan pada percaya pada jati diri. Seketika ngopinya jadi
pesta durian habis 1 ton hahahaha efeknya kepala langsung pusing dan mau
muntah. Percaya pada jati diri merupakan hal yang sangat penting bagi kang
Bagong, sampai-sampai sangat penting meyakini diri sendiri dulu daripada Tuhan.
Dalam kedaan setengah mendem
duren aku bertanya pada kang Bagong “Bukannya kita harus percaya dan yakin dulu
terhadap Tuhan daripada ke yang lain apalagi pada jati diri sendiri yang
sepertinya juga sangat sulit untuk ditemui?”
Kang Bagong dengan santai
menjawab “ bagaimana mungkin kamu yakin pada Tuhan sedangkan pada ciptaannya
yang sangat hebat yang disebut manusia saja kamu tidak yakin. Bukan berhenti di
manusianya saja namun pada sejati manusia tersebut yang tidak pernah terputus
koneksinya pada Tuhan”.
“sejatimu itu tidak akan pernah
bohong padamu karena hanya dia yang dapat kamu percaya untuk berkomunikasi
dengan tuhan. Kalau manusia lain yang sudah penuh dengan intrik untuk memenuhi
nafsunya dan membunuh sejatinya itu malah sangat besar potensi kebohongannya”.
“sekali kamu lepas dari sejati mu
maka kamu akan sangat mudah terombang-ambing dalam kehidupan seakan kehilangan
pegangan hidup”. Lanjut kang Bagong.
Kang Marwit masih saja santai
menikmati rook dan sesekali mnyruput kopinya seakan membiarkan aku mendem
dengan obrolan kang Bagong.
“lantas bagaimana bisa aku
mempercayai sejatiku yang seakan bahkan hampir tidak pernah kutemui? Jangankan untuk
mendiskusikan mana yang benar dan salah, sekedar memanggilpun tidak pernah”
tanyaku pada kang Bagong.
“ya mulai belajar gila untuk
berbicara atau memangil sejatimu” lanjut kang Bagong.
“apa bisa kang?” tanyaku.
“ya pasti bisa kan kamu sudah
punya ijin hidup” lanjut kang bagong.
“lha kan memang sudah hidup kang
masa ada ijinnya?” tanyaku tambah bingung
“hahahaha soal ijin hidup nanti
kau tanya pada kang Marwitmu itu, aku hanya inngin menyampaikan agar kamau itu
tidak mudah percaya pada siapapun selain pada sejatimu, selebihnya urusanmu…..
hahahahaha” kang bagong tampak puas dengan membuatku bingung sama persis kayak kang Marwit.
Begitulah kalau sudah ngobrol dan
ngopi bareng sama orang-orang setengah ndeleleng
0 Response to "Antara Aku, Bagong dan Marwit"
Post a Comment