-->

Ojo Kegeeran Wit

Berjalan dari timur ke barat hingga akhirnya sampai di selatan, tempat diamana yang disakralkan oleh banyak orang yang membuat kang marwit penasaran.

Dalam perjalannya dia berharap tuhan menggerakkan hatinya dengan informasi-informasi yang menakjubkan, informasi yang dapat menambah keyakinan bahwa dirinya memang diperjalankan tuhan untuk misi tertentu walaupun memang jauh kalau dari kelasnya nabi dan rasul, bahkan dari ketua rukun tetangga dikampunya.

Jalur candi menuju pendopo agung hingga akhrinya berakhir di pantai selatan tak sedikitpun ada perasaan seperti gemetar deg-degan maupun sedikit pusing dalam dirinya, yang hadir hanya perasaan kosong yang tek berujung seperti orang galau yang ditinggal pacarnya.

Lama juga kang marwit berada di pantai selatan hingga akhirnya dia memutuskan buang air kecil, ingin buang di ponten dia tidak speser[un mempunyai yang namanya uang karena sudah dia habiskan dalam dunia khayalnya. Akhirnya dia putuskan untuk mengencengi segoro kidul tanpa menghilangkan rasa hormatnya pada penjaga laut kidul.

Kang marwitpun pulang dengan kecewa karena dia tidak mendapatkan apa-apa dari perjalannya itu. Hingga akhirnya dia duduk lemas di warung khayangan sambil membayangkan tuhan mengelus-elus rambutnya langsung sampai tertidur pulas dan membisikkan sedikit kata “ dasar kamu maarwit mbok jangan kegeeran kalau jadi manusia, aku saja tidak sombong menjadi tuhan”. Kang marwit langsung tersentak bangun dan langsung nyruput kopinya diiringi dengan derasnya keringat dingin di batuknya yang lebar itu.

0 Response to "Ojo Kegeeran Wit"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel